Monday, December 04, 2006

My blog has moved!

You should be automatically redirected. If not, visit watung.org and please update your bookmarks (emang ada?)
Read the rest...

Tuesday, November 07, 2006

Jilbab: symbol of oppression?

Comment seorang teman nih (not you, just some angered-fella): jilbab is the symbol of oppression (termasuk juga symbol of "terror", ngikutin trend dunia saat ini), it is but one aspect of how women are oppressed by Islam. Ouww, reallyyy?

Now, historically...


Mari balik ke sebelum Masehi (okay, okay.. I'll get into the 21st century later on), para wanita yang dianggap terhormat di Assyria Kuno (mungkin Timur Tengah sekarang) dan Persepolis memakai kerudung sebagai simbol martabat yang tinggi (misalkan, wanita tuna susila dilarang menggunakan kerudung).

Oh, ndak cuma di bumi padang pasir sana, para wanita di Anglo Saxon (Inggris sekarang, hidup Beatles!) menutup seluruh rambut mereka dengan kerudung. Why? Simbol kesucian.


Also in India...


Kaum wanita Yahudi diharuskan menggunakan kerudung,


bahkan setelah menikah.
Even after the wedding, the divine light never leaves her. The Kabbalah teaches that while it no longer beams through her face, a portion of the divine light remains in the strands of her hair. This is a mystical reason for the Jewish practice of married women keeping their hair covered with a wig or other head-covering, just as the bride covers her face. (Source here)

Juga Bunda Maria, seorang wanita suci yang sangat, sangat dihormati di dalam Islam (bahkan namanya menjadi nama salah satu surah di dalam Al-Quran -- Maryam). Lalu, Bunda Theresa...


... sekian banyak wanita-wanita terbaik di tradisi Kristen dan Katolik, Esther, Santa Monica...


Sebelum tahun 1960-an pun, para wanita Katolik diharuskan menggunakan penutup kepala sebelum memasuki gereja (sekarang nggak lagi -- dunno why, there was some conventions in Vatican, walaupun masih diterapkan di kelompok Katolik yang lama-lama). Dan kita tahu para suster yang baik itu...


Dignity, integrity, modesty, kesucian, keterjagaan, kehormatan, kedewasaan... Yah simbol-simbol inilah yang dulu (bahkan barangkali sampai sekarang) melekat pada kerudung, hijab, chador, tichel (Yahudi), babushka (Rusia), veil, dupatta (India-Arya)...

Now, you're still thinking Moslems are different? Symbol of oppression? Of terror?



Salaam.

Oh ya, and that means "peace".
Read the rest...

Monday, October 16, 2006

Revisitia

Postingan di blog kita itu seperti jejak-jejak sejarah, bukankah begitu? Sejarah kita sendiri. Ada kalanya kita ingin revisit salah satu atau beberapa di antaranya, mengunjungi kembali pikiran-pikiran kita dulu, merasakan kembali nuansanya... Kita bersyukur karena kita mulai beranjak sejengkal atau sedepa, atau bahkan kala sadar kita tak beranjak ke mana-mana.

Menyekutukan Tuhan
Rasanya kemusyrikan itu setua kehidupan itu sendiri. Kita mengulik kembali isi hati, bertanya benarkah tak ada sesuatu pun yang lain yang kita tuju di ujung penghadapan wajah ini?

Tiap Orang, Satu Misi
Tidak terlalu tidak-masuk-akal kan? Kita datang ke sini, ke dunia ini, demi sebuah misi suci, yang hanya kita orang per orang, yang musti mengerjakannya?

Semoga in-line dengan babak akhir dari Bulan Suci kali ini. Mohon maaf yang sebesar-besarnya. Salaam.

Read the rest...

Sunday, October 08, 2006

Belajar dari Kematian

Najafi adalah seorang ulama terpandang, di Quchani nun jauh di sana, di negeri Iran. Suatu hari ia mengalami peristiwa yang sungguh luar biasa yang telah mengubah seluruh kehidupannya sejak itu: sebuah pengalaman tentang kematian.
Dan aku pun meninggal dunia. Kala itu aku menyaksikan diriku dalam keadaan berdiri, sementara jasadku terkulai tanpa daya. Sanak keluargaku menangisi tubuh yang terbaring itu, dan aku pun sedih melihatnya. Aku berkata kepada mereka bahwa aku belum mati. Namun tak seorang pun dari mereka mendengarku. Mereka tak melihatku, tak mendengar suaraku. Maka aku pun sadar, mereka sungguh jauh dariku...


Begitulah Najafi mengawali bukunya, Petualangan Setelah Kematian, yang sudah diterjemahkan ke Bahasa Indonesia ini. Bisa diperoleh di mana saja (yah, saya membelinya di Gramedia). Tipis dan lugas, karena kita bisa menghabiskan buku ini sembari ngabuburit, walau kita akan dibuat tercenung sekian lama oleh detil kisah yang menakjubkan, sekaligus "tragis". Tragis, membayangkan kelanjutan tragedi manusia, tragedi kita sendiri.

Konon, statistically, kematian adalah nomor 1 yang paling ditakuti di dunia, mengalahkan AIDS, hantu dan gendruwo, penjara dan kemiskinan. Segenap usaha dikerahkan di seluruh negeri untuk menekan tingkat kematian, but mortality rate is always constant all the time... one death per person!

Sebuah "akhir" yang tak selamanya mudah dipahami. Sebuah keniscayaan yang meruntuhkan segenap formula tentang hidup yang makmur dan sejahtera. Coba lihatlah, teman-teman yang baik, rumah cicilan nan asri dan karir yang dibangun dengan sabungan nyawa ini, Nokia N-series yang kita tenteng pagi malam, yield 12% investasi, beragam rumusan efficiency and effectiveness and competitiveness and competence and quality and leadership and leverage and all those smart-ass jargons... apa yang telah kita bangun dengan darah dan tangis ini akan lepas, kita tinggalkan begitu saja, at once, begitu palu akhir waktu diketuk.

* * *

Yang menarik dari buku ini adalah bahwa, walau berkisah tentang sebuah petualangan setelah kematian, namun bila kita coba renungi halaman per halamannya, akan terkuak sedikit misteri tentang diri, tentang siapa kita. Sebagai contoh, bahwa diri bukanlah jasad kita. Jasadlah yang mati, sementara apa yang kita sebut "saya" atau "aku" ini ternyata adalah sesuatu yang sama sekali berbeda dan akan tetap hidup.
Kala itu aku menyaksikan diriku dalam keadaan berdiri, sementara jasadku terkulai tanpa daya.
Juga tersirat di sana bahwa di dalam diri kita terdapat kemampuan penglihatan yang luar biasa.
Lalu jenazah itu diusung ke pemakaman. Aku berada di antara mereka yang mengantarkannya. Aku melihat di antara para pengiring itu terdapat berbagai jenis binatang buas...
Manusia, yang tampak bagai binatang. Persis seperti apa yang dialami Bawa Muhaiyaddeen, "When you pass by me and I look within you, I may see something with four legs, I may see a snake, I may see a lion, a tiger, a demon, a cow, a horse, a donkey, or a crab. When I look inside, I will know this. I see this." (To Die Before Death, 1997)
"... maka Kami singkapkan tutup matamu, maka penglihatanmu pada hari itu amat tajam." (QS [50]:22)
"Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi." (QS [7]:179)
Betapa pun, di sepanjang buku ini, kita akan dibuat paham (tentu, buat mereka yang percaya), bahwa kematian bukanlah akhir, bukan ujung dari segala. Kematian hanyalah satu turning-point, sebuah milestone di rentang kehidupan kita yang panjang menuju kehidupan lain yang jauuuuh lebih panjang. Barangkali seperti berpindah tempat tinggal ke lain kota atau negeri, di mana kita bertemu dengan nature, budaya, dan para penghuni yang sama sekali baru.
Ya, kini aku tak sendiri. Akhirnya ia tiba di depanku. Sosok berkulit hitam, bertubuh tinggi, berbibir tebal dengan gigi yang besar panjang menjulur, hidungnya lebar, dan berbau busuk.

"Siapa namamu," tanyaku.

Dijawabnya, "Aku adalah saudara kembarmu. Namaku Jahalah (kebodohan). Pekerjaanku merusak, menyesatkan..."
Berbagai peristiwa yang terjadi tampaknya adalah refleksi dari apa yang ada di dalam diri kita sendiri. Segala yang dialami, adalah wujud dari apa yang kita sendiri telah pupuk di dunia ini, di sini.
Mereka membawa sangkar besi dengan tujuh jerujinya. Aku diletakkan di tengah-tengahnya. Perlahan-lahan sangkar besi itu menyempit dan mengecil sehingga aku terjepit dan nafasku terhenti... Maka kini aku tahu bahwa himpitan itu merupakan bentuk penyucian seseorang dari kotoran dan keburukan... cairan minyak hitam pekat itu pun keluar dari diriku.
"Allah (berbuat demikian) untuk menguji apa yang ada dalam dadamu dan untuk membersihkan apa yang ada dalam hatimu." (QS [3]:154)
Berbagai kengerian yang menggetirkan hati juga tak lepas dikisahkan.
Aku melihat orang-orang yang tertimpa bencana, jumlahnya amatlah banyak! Mereka yang mengalami berbagai siksaan, berusaha melepaskan diri dari lumpur panas itu. Di antaranya ada yang berhasil membebaskan diri, namun batu besar jatuh dari langit dan mengenai kepalanya...
Satu hal yang juga membuat saya agak trenyuh setelah membacanya, adalah bahwa orang yang meninggal terkadang mendatangi keluarganya pada malam Jum'at untuk memperoleh semacam "bekal", walau kerap kembali dengan tangan hampa, sedih karena yang didapatinya hanyalah upacara dan doa-doa seremonial semata.
Sampai malam Jumat, tak ada satu berita pun. Aku pergi ke rumahku dengan menjelma seekor burung. Aku bertengger di sebuah ranting pohon di dekat rumah dan menyaksikan kehidupan keluargaku... Mereka datang ke rumah membantu memasak, menceritakan kisah duka, dan membacakan Al-Fatihah untukku... yang sama sekali tak bermanfaat bagiku, karena tujuan utama acara itu hanyalah untuk kehormatan mereka sendiri. Mereka tidak mengundang orang-orang fakir miskin yang kelaparan... Dengan rasa putus asa dan hati hancur, aku kembali ke kubur... Hampir-hampir aku mengutuk istri dan anak-anakku...
Yah, sebuah pelajaran bagi mereka yang memiliki orang tua atau saudara dekat yang sudah meninggal. Berdoa pada Sang Maha Pemberi, untuk mereka, dengan sungguh-sungguh dan hati yang ikhlas, karena siapa tahu mereka amat sangat membutuhkan.

* * *

Begitulah, rasanya tanpa pengetahuan tentang kematian, bagaimana kita akan paham makna kehidupan ini? Bukankah kematian hanyalah bab-bab lanjutan dari buku besar kehidupan, sebuah chapter panjang tersendiri yang mengungkap maksud dari kisah-kisah di bab sebelumnya.
Until you are placed in the grave and covered with earth and everyone has taken seven steps away, you will know everything... (Bawa Muhaiyaddeen, To Die Before Death, 1997)
Yah, barangkali kita musti bersiap. Tapi persiapan seperti apakah, teman? Segalanya akan ditanggalkan, segalanya, semuanya, bahkan tubuh ini! Dan seperti diungkapkan Najafi, the self remains... diri lah yang akan melanjutkan perjalanan panjang setelah ini. Maka sudahkah kita tahu tentang siapa diri kita sendiri, yang bukan tubuh ini, teman-teman yang baik?
"Dan barangsiapa yang buta di dunia ini, niscaya di akhirat ia akan lebih buta dan lebih tersesat dari jalan." (QS [17]:72)
"Barangsiapa mengenal dirinya, akan mengenal Tuhannya." (Rasulullah SAW)

Read the rest...

Monday, August 21, 2006

Obat Batuk

Saya kena batuk, barangkali yang terlama sepanjang hidup. Hampir 3 bulan! Bayangkan. Pernah selama itu? Saya mau posting request ke MURI kalau nggak ada jawaban. ;-) Obat batuk? Nggak usah ditanya. Selama 1,5 bulan penuh, saya minum 4 botol, dengan merek berbeda-beda. Nggak usah disebutin, keempatnya adalah brand ranking 1, 2, 3 dan 4. Paling top sejagad, paling gencar iklannya. Dan grafik trend batuk saya nggak bergeser satu poin pun: lempeng, lurus, konstan.

Baiklah, saya mau cerita tentang sebuah rahasia. Sebuah rahasia yang barangkali hampir semua produsen obat batuk umum nggak ingin kita semua tahu:


It doesn't work!


Ya, itu dia. Tidak menyembuhkan. Nggak ngefek. Obat batuk itu seperti plasebo layaknya, seperti nggak minum obat apa-apa. Plain. Kosong. And chances are, para produsen obat batuk itu tahu... and they won't stop, hey, cough medicine is a big business!

Penelitian tahun 2002, oleh 2 orang peneliti di Universitas Bristol, Inggris (silakan baca sendiri, saya kasih link ke jurnalnya langsung di bawah) menyimpulkan begini:
There is little evidence for or against the effectiveness of over the counter cough medicines. Although cough medicines are generally well tolerated, they may be an unnecessary expense. Link
Note: over-the-counter, atau OTC medicine, istilah fancy untuk obat-obat umum yang bisa dijual bebas.

Juga, sebuah press release yang dikeluarkan American College of Chest Physicians -- kalau puyeng baca jurnal medisnya, barangkali judulnya saja cukup menggambarkan: New Cough Guidelines Urge Adult Whooping Cough Vaccine; Many OTC Medications Not Recommended for Cough Treatment. Link.

See?

Soal batuk ini, kadang saya nggak paham juga jalan pikirannya. Kalau kita coba buka kamus: Cough is an action the body takes to get rid of substances that are irritating the air passages. Nah, bukankah itu justru positif? Am I right? Batuk adalah kerja tubuh untuk mengeluarkan hal-hal yang menghalangi jalan pernafasan. Dan obat batuk, correct me if I'm wrong, didesain untuk membasmi kerja tubuh itu?

Watung, that's too much! Maksudnya adalah obat batuk itu dibuat untuk membasmi penyebab batuk, bukan batuknya sendiri.

Nggak tahu juga ya, soalnya laporan dari American College of Chest Physicians bilang gini:
... many over-the-counter cough medicines are not effective, and that those that are effective in treating the symptom do not treat the underlying cause;
Seperti mencoba menghilangkan asap, tanpa mematikan apinya. Ya nggak sih? Seperti itulah kira-kira.

Entahlah, apa yang membuat batuk saya selama ini reda juga pada akhirnya. Mungkin karena treatment air itu (saya minum 11 gelas air putih tiap hari setelah 4 botol obat batuk itu nggak mempan-mempan). Mungkin juga karena sudah waktunya, seperti pengalaman-pengalaman yang lalu: tanpa obat tanpa apa, seperti menunggu badai, dan percaya pasti akan berlalu.

You're not even a doctor, Tung...

Yes, I know. Oh, U.S. doctors say cough syrups don't work, too... ;-)

Read the rest...