Sunday, March 12, 2006

Pencabutan Nyawa

Maaf kalau rada horor. Ini tentang satu kejadian yang pasti kita alami, yang kerap kali pengetahuan tentang itu males banget kita sentuh. Tapi buat saya penting, lha wong pengetahuan tentang yang nggak pasti seperti "besok makan apa" aja kita kejar sampai sekolah MBA segala kan?

Kalau bisa diibaratkan, seluruh kehidupan yang kita lalui ini terdiri dari 4 chapters, Chapter 1 = somewhere di tempat Allah Ta'ala, yang kita sudah lupa, entah berapa lama; Chapter 2 = di perut Ibunda, sembilan bulanan; Chapter 3 = hidup sekarang ini, sekian puluh tahun; dan Chapter 4 = ... yah God bless us, maka ini adalah sebuah kisah tentang fase transisi dari Chapter 3 ke Chapter 4 dari kehidupan kita. Baru satu fase saja.

Sebelumnya, mungkin supaya nggak rada lieur membacanya, sedikit pengantar tentang apa yang dimatikan, tentang tubuh ini, tentang sesuatu yang sering kita sebut-sebut sebagai "aku", "saya", "ogut" ini. Coba kita lihat gambar ini:


Keris. Bayangkan, bila keris itu terhunus, tercabut dari sarungnya, mana yang masih kita sebut keris yang sesungguhnya? Yak, benda sebelah kiri, kerisnya itu sendiri. Nah, hei! Bukankah itu permisalan yang baik tentang mana yang kita sebut "aku" dan mana yang "tubuhku"? Bukankah seperti itu pula ketika Izrail a.s. menghunus dan mencabut diri kita dari "sarungnya", dari tubuh ini? Bukankah sakit tiada tara ketika kematian datang itu seperti suara berderit ketika menghunus keris karatan yang saking lengket pada sarungnya lantaran tak pernah diasah?
Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu. (QS 91:9)
Got the point? Imam Al-Ghazali menyebut jiwa itu, keris itu, adalah esensi diri kita yang sebenarnya, "aku" yang sejatinya. Sebenarnya beliau juga menyebutkan satu hal lain, yaitu nyawa (which is another different thing) yang menjadikan tubuh atau jasad, sarung keris itu, hidup dan terasa hangat (itu sebabnya tubuh menjadi dingin ketika nyawa tercabut). So, three components of you: the body, the soul (You, yourself), the ruh (nyawa).

Oke deh, cukup. Jadi, kembali ke tujuan awal, berikut ini (lagi-lagi) diterjemahkan dari To Die Before Death, koleksi diskusi antara Bawa Muhaiyaddeen dan muridnya, diambil dari sebuah sesi pertanyaan berikut ini:
What happens immediately after a person dies? What happens at the moment of death?

* * * *

Bila engkau bunuh atau sembelih seekor kerbau hingga mati, apa yang engkau saksikan di sana? Kerbau itu tak akan lagi bersuara, ia akan merasakan kesakitan. Di luar, akan engkau lihat tubuhnya bergetar. Namun di dalam, seluruh bagian di tubuhnya akan menggigil, tiap saraf, tiap otot dan urat akan mengejang.

Seperti itulah, semua sifat dan lima macam kehidupan (bumi, api, air, udara, dan eter atau ilusi) di dalam dirimu akan kehilangan kekuatannya ketika sinar (ruh) itu ditarik keluar. Tanpa mampu bersuara sepatah kata, semua pikiran akan menggigil dan mengejang sebelum akhirnya terlepas. Pada saat itu, beberapa orang menyaksikan suatu kobaran api yang dikenal sebagai neraka. Akan kau lihat makhluk-makhluk yang telah kau pelihara dan tumbuhkan selama ini. Semua pikiranmu akan mewujud menjadi makhluk atau hantu atau anjing yang datang menggigitmu, mencabikmu, dan memangsamu. Pikiran-pikiran itu akan hidup dan mendatangimu sebelum engkau sempat melihatnya, "Hai, bajingan, apakah engkau hendak meninggalkanku begitu saja? Dimana lagi aku bisa hidup berkembang biak? Jangan pergi! Kembali!" Seperti itulah, semua bagian dalam dirimu akan menorehkan derita yang tiada tara bagimu.

Pada saat itu, ketika masih setengah sadar, beberapa orang akan menggumam tak menentu, "Yang itu pergi. Yang itu datang. Makhluk mengerikan itu kemari! Hantu itu kemari! Api itu mendatangiku! Ada yang datang hendak membunuhku!" Tapi beberapa yang lain tak mampu berkata-kata, hanya meneteskan air mata. Yang lainnya lagi memekik pada sesuatu yang tak jelas. Air liur keluar dari mulutnya, lidahnya menjulur, dan napasnya terengah-engah. Beberapa orang menggigil dan tubuhnya mengejang. Banyak hal dan derita menimpa tubuh seseorang pada saat itu.

Ketika itu, segala dosa dan kejahatan yang pernah engkau kerjakan, segala pembunuhan yang telah kau lakukan, akan tampak di hadapanmu, seperti halusinasi yang engkau lihat ketika menelan LSD (obat-obatan psikotropika). Bila engkau pernah membunuh seseorang, engkau akan menyaksikannya saat itu. Bila engkau pernah menyakiti atau mengumpat pada seseorang, hal itu pun akan muncul di depan matamu.
Sori, sedikit catatan dari saya: "... maka Kami singkapkan daripadamu tutup matamu, maka penglihatanmu pada hari itu amat tajam." (QS 50:22)
Segala sesuatu yang pernah dilakukan oleh seseorang, semua pikirannya, akan muncul dan mengerumuninya saat itu. Inilah yang akan dilihatnya. Ia tak 'kan mampu berkata-kata, namun ia akan menyaksikan semuanya ini dalam ajalnya. Ia tak kan langsung mati begitu saja. Semua ini akan turun perlahan, sedikit demi sedikit, sampai nyawa tercabut.

Jiwa akan tetap bersamamu sampai engkau diletakkan di dalam kubur. Sebelum jiwamu pergi, segala yang kau alami saat itu, bunyi-bunyian, pekik tari-tarian dan minum-minum, segala tarikan pada saudara dan keluargamu akan terlihat oleh kedua matamu dan terdengar di kedua telingamu, namun akan seolah seperti engkau dalam pengaruh obat bius (anestesi). Engkau tak akan mampu berbicara atau bergerak, namun engkau sadar atas apa yang terjadi di sekelilingmu. Seperti halnya ketika sebelum operasi, engkau diberi anestesi agar tak merasakan sakit, namun tubuhmu sadar atas apa yang dilakukan terhadapnya. Seperti itu pulalah, engkau tak akan mampu berbicara atau berteriak, tak bisa bergerak, tak dapat melakukan apa-apa, namun suatu kesadaran di dalam tubuhmu akan tahu apa yang terjadi. Sampai ketika engkau diletakkan di dalam kubur, ditimbun tanah, dan semua pengantar telah meninggalkanmu tujuh langkah, engkau akan paham segala sesuatunya. Setelah itu, malaikat akan datang, menanyaimu beberapa pertanyaan, dan memaksamu menuliskan semua yang telah engkau kerjakan.

Pada saat itu, nyawa pergi meninggalkan tubuh dan tubuh mulai terurai. Namun sesuatu yang ada di dalam tubuh akan menerima pertanyaan-pertanyaan. Sesuatu itu terbentuk dari pikiran-pikiran, emosi, hawa nafsu, bayangan, setan dan makhluk-makhluk yang telah menipu dan memangsa tubuhmu selama ini. Engkau hanya semata budak yang selalu menuruti perintah mereka. Mirip seperti seseorang yang menyewa orang lain untuk melakukan sebuah pembunuhan. Sesuatu di dalam inilah pelaku utamanya, pembunuh yang sebenarnya. Ia yang melakukan dosa dan memangsa kekayaan dunia, dan ia lah yang nanti akan ditanya dan menerima sanksi keputusan. Ia lah yang akan menghadapi penderitaan yang sesungguhnya. Tubuh di luar hanya mengalami sedikit penderitaan karena ia hanya menerima perintah.

Bila engkau melakukan kejahatan dalam hidupmu, engkau akan menyaksikan sifat-sifat buruk yang engkau tumbuhkan itu. Namun bila engkau berlaku baik, engkau akan menyaksikan citra Tuhan. Engkau akan melihat malaikat dan para penghuni surga, dan penerimaan yang indah menantimu. Engkau akan melihat kerajaan surga dengan segala keindahannya. Engkau akan mendapati ucapan penyambutan, "Kami telah menantimu. Kami telah mengharapkan kehadiranmu. Kemarilah, ayo kemari." Kedua hal ini yang nanti akan disaksikan, sebagai dua sisi yang berbeda. Setiap orang dari kita akan tahu pada saat itu, sekalipun kita tak mampu berkata sepatah pun.

Tubuh-dalam memperlakukan tubuh-luar seperti budak dan menjalankan fungsinya dari dalam. Hawa nafsu kita, hantu dan makhluk-makhluk bekerja di dalam diri kita. Sebulan lalu engkau khawatir akan tempat tinggalmu, uang sewa, dan apa yang dilakukan orang padanya, dan seterusnya. Engkau hampir kalut dan gila dibuatnya. Bila engkau meninggal dunia saat itu, itulah yang akan kau lihat di depan matamu. Seperti itulah.

* * * *

Keris musti sering diasah, dibersihkan, "mati sebelum mati" kata Baginda Rasulullah SAW, yang pada intinya sekali lagi:
Dan barangsiapa yang mensucikan dirinya, sesungguhnya ia mensucikan diri untuk kebaikan dirinya sendiri. Dan kepada Allahlah kembali(mu). (QS 35:18)