Wednesday, April 05, 2006

Beta Mania

Kata yang lagi trend nih: "beta".

Kerasa nggak, semakin banyak produk beta akhir-akhir ini? Misalnya saja kemarin, pas mau upload foto di Flickr. Nggak nyangka kalau service itu sebenarnya masih juga beta sampai sekarang. Batin saya, "C'mon Flickr, it works, you released. It's done!"

Dan kalau kita inget dulu, Friendster juga cukup lama punya logo beta yang warna biru itu. Termasuk juga GMail... wuahh, entah sejak dari abad berapa tuh dia beta, sampai sekarang? Dan berbicara tentang Google, rasanya hampir semua produk mereka di-introduce sebagai beta, ya nggak sih? GTalk, Google Page, Desktop Search, Google Map. Belum lagi sekarang kita notice servis-servis baru yang lagi menjamur: Orkut, Kinja, Riya... Bahkan Microsoft pun nggak mau ketinggalan: lima produk baru di unit MSN, semuanya launched as beta!

Ada apa dengan beta? Dimana sih rationale-nya?

Teman-teman yang pernah nyemplung di software engineering (atau, yah, siapa saja yang paham apa itu "802.11g".. ;-)) pasti tahu istilah "beta" ini. Sekedar intro, dari tradisinya, software biasanya dibuat paling tidak dalam tiga release: alpha, beta, dan final (bukan gamma). Versi "alpha" biasanya adalah sebuah proof-of-concept di mana semua komponen dan modul-modul utama sudah "saling kenal" dan bekerja baik, walau fitur-fitur kosmetik, eye-candy, dan tetek bengek belum masuk. Tujuannya sebagai internal-review dari desain programnya. Sementara di versi "beta", wujud akhir dari produk itu sudah mulai tampak, dicoba dilempar ke selected-customers sebagai technical-preview untuk mendapatkan berbagai input sebelum final release. Di titik "beta" ini, penambahan feature biasanya sudah sangat-sangat diminimalisir -- task-list para developer isinya cuma "Fix bug#1009-RT-xxxx on build#1009".

So, beta version bukannya produk setengah jadi. Jadi, hanya belum teruji. Dan yang terang, kasus ini tidak seperti kalau kita ditawari di apotek, "Mas, ini obat luar biasa bagus, bisa mengatasi mual-mual dan pusing. Namanya Masukanginexin. Mau jadi beta-tester?" Nggak sama seperti obat. Orang lebih toleran dengan software dibandingkan dengan obat. And by the way, it's not software, it's an Internet service after all. And Internet means free! Jadi ya, buat banyak orang, in some extent, nothing to lose. Nggak ada ruginya nyoba, lha wong gratis.

So, untuk apa sebenarnya mereka launch produk-produk yang belum siap, belum teruji?

"Sebagai excuse aja itu, Tung." Ini yang sering saya denger dari teman-teman, juga dari sebuah kolom di WSJ, yang saya sendiri nggak terlalu percaya. Ibaratnya, kita melemparkan produk sampah acak-adut, dan kita sisipi nama "beta" karena punya niatan: in case ada customer bilang "Produk elu kacau amat sih?" kita bisa bilang "Errr... ini masih beta, Mbak." Memangnya ada bisnis yang ngibulin pelanggan seperti itu? Cinta pasar adalah cinta monyet: begitu dia nggak jatuh hati pada pandangan pertama, nggak akan ada lamaran kedua. ;-)

Setuju, excuse itu bisa terjadi pada produk-produk beta. Tapi rasanya tidak ada pebisnis waras yang punya niat melempar produk ke pasaran dengan segudang potensi bug yang akan menjatuhkan reputasi mereka, ya nggak sih? Saya lebih cenderung ke alasan-alasan seperti ini:
  1. Curiganya sih, istilah "beta" ini tidak seperti yang umum kita pahami (dan bener, karena "beta-betaan" ini, istilah beta itu sendiri jadi blur!). Bukan sebagai technical preview untuk mendapat input dari para beta-tester, tapi lebih ke build-as-you-go mindset. Ilustrasinya seperti ini:

    Katakanlah, kita mau bikin new internet service, dan kita ingin produk itu memiliki feature A, B, C,... sampai Z. Instead of nunggu 3 tahun sampai semua features itu jadi, kita bisa launch servis itu stage-by-stage. Misalkan, stage 1: basic functions + killer features (Ingat di awal-awal email-functions milik GMail yang nggak ada apa-apanya kalau dibandingkan dengan Yahoo Mail, tapi mengagetkan kita semua dengan tawaran 1 Giga-nya?). Lalu stage 2: feature D, E, F. Stage 3, dan seterusnya.

    Kebayang nggak? Dengan cara ini, produk bisa keluar ke market lebih cepat, sembari memperoleh input dari publik untuk stage-stage selanjutnya. Nggak heran, GMail masih beta sejak 2004. Google News? Perlu 4 tahun untuk keluar dari beta!

  2. Begitu masuk ke konsep marketing, istilah "beta" ini juga berarti "sneak" atau "stealth preview" atau "on invite only", sesuatu yang bisa juga... apa ya... "perdana" atau "untuk kalangan terbatas". Dengan menyebut "beta", akan ada kalangan-kalangan yang bersemangat, "Wow, dapat GMail account! Ada yang mau juga? Gua bisa invite!" Kebayang nggak? Ada orang-orang yang senang try-out things dan menjadi yang pertama, atau yang tahu lebih awal, dan mereka ikut serta menyebarkan informasinya (viral marketing!) dan menjadi champions untuk produk baru itu.
Mengutip Larry Page:
It's kind of an arbitrary thing. We could take beta off all of our products tomorrow, and we wouldn't actually have accomplished anything...If it's on there for five years because we think we're going to make major changes for five years, that's fine. It's really a messaging and branding thing.
Nice.